WanHart Consulting
 
WanHart Gallery   WanHart Consulting
Today is
 
     WanHart Consulting > ENERGY
WanHart Energy WanHart HUman Resources WanHart Corporate Strategy WanHart Management Consultancy WanHart Business Planning WanHart Visual Communication


If you can't see the headlines, please switch your browser to FireFox.
You are at WanHart Consulting > Services > Energy


Konsumsi BBM (Bahan Bakar Minyak) dan listrik tidak semakin menurun dan harga semakin melambung. Akibat dari domino efeknya harga-harga makanan dan lain lain semakin melambung.

Kami dapat membantu mengatasinya sekarang juga!

Click di sini jika anda ingin menghemat BBM (Bahan Bakar Minyak) seperti bensin dan solar.

Click disini jika anda ingin menghemat konsumsi listrik untuk industri anda.

HOT NEWS: Industri Makanan dan Minuman Paling Boros Energi

Jakarta - Hasil audit Nedo (New Energy and Industrial Technology Development Organization), sebuah organisasi pengembangan energi alternatif dan teknologi industri asal Jepang, menyimpulkan bahwa tiga industri manufaktur di Indonesia terbukti paling boros dalam penggunaan energi. Ketiga industri dalam negeri yang boros dalam penggunaan energi tersebut adalah industri makanan dan minuman, industri semen, serta industri baja.

Nedo yang melansir hasil auditnya pada Maret 2007 menyampaikan industri makanan dan minuman di Indonesia menempati peringkat pertama terboros dalam penggunaan energi. Hal itu didasarkan dari hasil audit dimana untuk menghasilkan pendapatan penjualan sebesar Rp 108,4 triliun, industri makanan dan minuman Indonesia membutuhkan sebanyak 7,7 juta kilo liter BBM atau 16 persen dari total konsumsi energi industri yang mencapai 47,48 juta kilo liter BBM pada 2006.

"Sebagai perbandingan, di Jepang konsumsi energi untuk satu ton gula membutuhkan sekitar 105 liter BBM, sementara di Indonesia sebesar 157 liter BBM," kata Takahiko Yamamoto, Direktur Eksekutif Nedo yang dikonfirmasi usai acara Sosialisasi Efisiensi Energi di sektor Industri, di Departemen Perindustrian, Jakarta, Selasa (13/3).

Menurut Yamamoto, dari hasil audit pada 132 pabrik industri makanan dan minuman di Indonesia, tingkat pemborosan energi itu umumnya terjadi pada sektor industri pengolahan makanan dan minuman seperti pabrik gula, susu dan minuman. Industri-industri tersebut banyak menghabiskan energi untuk proses pembakaran, pendinginan serta pembekuan.

Kondisi serupa juga terjadi pada industri semen dan baja nasional yang masuk kategori paling boros energi. Survei Nedo terhadap empat pabrik semen dalam negeri, yakni PT Semen Baturaja (Sumsel), PT Semen Padang, PT Semen Gresik, dan PT Semen Tonasa (Sulsel), rata-rata mengkonsumsi BBM dan listrik hampir 4 miliar joule per ton semen per tahun.

"Jumlah tersebut lebih tinggi hampir 17 persen dari penggunaan energi dan listrik di seluruh pabrik semen Jepang yang hanya membutuhkan sebesar 3,4 miliar joule per ton semen per tahun," kata Yamamoto.

Staf Ahli Menteri Bidang Penguatan Struktur Industri Departemen Perindustrian Achdiat Atmawinata yang dikonfirmasi mengakui bahwa industri semen nasional memang belum efektif melakukan proses pengeringan semen, pendinginan klinker dan generator pengelolaan limbah sehingga terjadi pemborosan energi tersebut.

Di sektor industri baja, pemborosan energi menurut Achdiat dapat diketahui dari hasil audit NEDO yang menyebutkan dengan kapasitas produksi sekitar 3 juta ton per tahun, industri baja nasional menghabiskan 8% dari total konsumsi energi sebesar 47,48 juta kilo liter BBM per tahun. (moh. ridwan)

Ref: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0703/14/eko05.html

Untuk informasi lebih lanjut hubungi kami di
(021) 3214-7000 & (021) 9185-3777
atau melalui email ke energy@WanHart.com